KH. Abdul Malik
Ulama & Pimpinan Pesantren
20 Juni 2025
2 menit baca
Jika ada satu momen dalam hidup yang bisa saya pilih untuk diulang, itu adalah wukuf di Arafah. Hari yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai "Haji itu adalah Arafah."
Pagi itu, bus Azam membawa kami dari Mina menuju padang Arafah yang luas membentang. Dari kejauhan, pemandangan yang tampak sungguh menakjubkan — lautan putih jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di satu tempat.
Kami tiba di tenda sebelum zhuhur. Tim Azam telah mempersiapkan tenda yang nyaman — dilengkapi AC, karpet bersih, makanan, dan air minum yang cukup. Pembimbing kami mengingatkan bahwa inti wukuf adalah memperbanyak doa dan istighfar.
"Doa yang paling utama adalah doa di hari Arafah." — HR. Tirmidzi
Setelah sholat Zhuhur dan Ashar dijamak, kami memulai munajat yang panjang. Di sinilah momen paling emosional terjadi — seluruh jamaah, tua muda, kaya miskin, dari berbagai bangsa, berdiri bersama memohon ampunan Allah.
Saya melihat seorang bapak tua di sebelah saya menangis tersedu-sedu, tangannya terangkat tinggi ke langit. Di sisi lain, seorang pemuda bersujud lama sekali, bahunya berguncang. Suara tangisan dan doa memenuhi padang Arafah.
Menjelang maghrib, ketika matahari mulai terbenam dan kami bergerak menuju Muzdalifah, ada perasaan yang saya yakini dirasakan oleh setiap jamaah: perasaan dilahirkan kembali. Seolah semua dosa telah diampuni, semua beban telah diangkat.
Perjalanan haji bersama Azam adalah pengalaman seumur hidup. Logistik yang sempurna, bimbingan yang mendalam, dan pendampingan yang tulus — semuanya berkontribusi pada pengalaman haji yang khusyuk dan bermakna.