H. Muhammad Ridwan
Dosen & Akademisi
20 Oktober 2025
2 menit baca
Alarm berbunyi pukul 3 pagi. Di luar jendela hotel, kota Madinah masih tertidur dalam kesunyian yang damai. Namun langkah-langkah kaki sudah mulai terdengar — jamaah bergegas menuju Masjid Nabawi untuk sholat tahajjud sebelum subuh.
Udara Madinah di waktu sahur memiliki kesejukan yang berbeda. Bukan sekadar sejuk fisik, melainkan kesejukan yang merasuk hingga ke relung hati. Setiap langkah menuju masjid terasa ringan, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menarik kami mendekat.
Masjid Nabawi di pagi buta adalah pemandangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Payung-payung raksasa yang menjadi ikon masjid ini berdiri gagah di bawah langit bertabur bintang. Lampu-lampu kuning keemasan menerangi area pelataran, menciptakan suasana yang begitu khusyuk.
"Sholat di Masjid Nabawi lebih utama dari seribu sholat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram." — HR. Bukhari & Muslim
Masuk ke dalam masjid, saya menemukan tempat di dekat Raudhah — taman surga di antara mimbar dan makam Rasulullah ﷺ. Sholat tahajjud di tempat ini rasanya seperti berada di dimensi yang berbeda. Setiap ayat Al-Quran yang dibacakan imam terasa menghujam langsung ke hati.
Ketika adzan subuh berkumandang, masjid sudah penuh sesak. Suara adzan yang merdu bergema di setiap sudut, menggugah jiwa-jiwa yang sedang khusyuk bermunajat. Air mata mengalir tanpa disadari.
Setelah sholat, kami duduk bersama rombongan Azam untuk kajian pagi bersama Ustadz Ridwan. Beliau menceritakan kisah-kisah Nabi Muhammad ﷺ di kota Madinah ini dengan begitu hidup, membuat kami merasa seolah sedang menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa itu.
Inilah mengapa saya selalu merekomendasikan Azam kepada siapa pun — bukan hanya fasilitas fisik yang mereka sediakan, tapi pendampingan ruhani yang begitu mendalam dan bermakna.