Hj. Siti Nurhaliza
Pengusaha & Tokoh Masyarakat
15 November 2025
2 menit baca
Saya masih ingat dengan jelas momen itu — langkah kaki yang gemetar memasuki Masjidil Haram di tengah malam. Udara Makkah terasa berbeda, seolah setiap molekulnya membawa berkah tersendiri.
Ketika pintu gerbang terbuka dan mata ini pertama kali melihat Ka'bah berdiri megah di hadapan, waktu seolah berhenti. Semua beban hidup, semua kekhawatiran duniawi, seketika luruh bersama air mata yang mengalir deras. Mulut ini hanya bisa bergumam, "Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
"Ya Allah, inilah rumah-Mu. Hamba-Mu yang lemah ini akhirnya sampai di sini. Terimalah ibadah kami, ampuni dosa-dosa kami."
Pembimbing kami dari Azam, Ustadz Ahmad, dengan sabar menuntun kami melakukan tawaf pertama. Beliau mengingatkan kami untuk tidak terburu-buru, untuk meresapi setiap langkah, setiap putaran mengelilingi Ka'bah.
Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata tentang pengalaman tawaf pertama itu. Di tengah ribuan jamaah dari seluruh penjuru dunia, saya justru merasa begitu dekat dengan Allah. Seolah sedang berdialog secara pribadi dengan Sang Pencipta.
Setelah tawaf, kami duduk di pelataran masjid, memandangi Ka'bah yang bercahaya. Suami saya menggenggam tangan saya erat, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah," bisiknya. Kata itu sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan apa yang kami rasakan.
Saya berterima kasih kepada tim Azam yang telah mempersiapkan segalanya dengan begitu sempurna — dari manasik sebelum keberangkatan, hotel yang sangat dekat dengan Masjidil Haram, hingga pendampingan yang penuh keikhlasan. Mereka bukan sekadar travel agent, melainkan mitra spiritual yang tulus menemani perjalanan ibadah kami.
Bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan untuk menunaikan umrah — jangan tunda lagi. Pengalaman ini akan mengubah hidup Anda selamanya.