Ir. Hendra Wijaya
Arsitek & Dosen Teknik
05 Juli 2025
2 menit baca
Sebagai seorang arsitek, saya selalu terpesona dengan keindahan arsitektur Islam. Namun tidak ada yang bisa mempersiapkan saya untuk keagungan Masjid Nabawi di Madinah.
Hal pertama yang menyambut kami di Madinah adalah pemandangan payung-payung raksasa yang ikonik. 250 payung elektrik berukuran besar menghiasi pelataran masjid, membentang layaknya sayap-sayap malaikat yang melindungi jamaah dari terik matahari.
Pada pagi hari, payung-payung ini dalam keadaan tertutup, memperlihatkan tiang-tiang baja yang elegan. Namun ketika matahari mulai meninggi, payung-payung ini secara otomatis terbuka — menciptakan naungan sejuk yang luar biasa.
"Setiap elemen arsitektur Masjid Nabawi dirancang dengan tujuan ganda: fungsional untuk kenyamanan jamaah, dan simbolis untuk mengingatkan akan nilai-nilai Islam."
Yang paling memukau adalah momen saat payung-payung terbuka bersamaan di sore hari. Cahaya matahari yang menembus celah-celah payung menciptakan pola bayangan yang indah di lantai marmer. Jamaah berjalan-jalan di bawahnya, menikmati kesejukan sambil berdzikir.
Masjid Nabawi sendiri adalah mahakarya arsitektur yang terus berkembang. Dari masjid sederhana yang dibangun Rasulullah ﷺ, kini menjadi salah satu bangunan terbesar di dunia yang mampu menampung lebih dari satu juta jamaah.
Perjalanan bersama Azam memberikan kami waktu yang cukup untuk menikmati setiap sudut Madinah tanpa terburu-buru. Program city tour mereka mencakup ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, dan pemakaman Baqi' — semuanya dengan narasi sejarah yang kaya dari pembimbing.